Header Ads Widget


 

BREAKING NEWS

6/recent/ticker-posts

4 Negara Serumpun Bersatu, Budaya Melayu di Era Digital Digaungkan di Pantai Tantri Trayana Mundam

AKTUAL RIAU COM- DUMAI Budaya Melayu adalah jati diri yang tak boleh pudar ditelan masa. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi digital, warisan luhur nenek moyang ini justru harus semakin diperkuat, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi muda agar tetap hidup dan relevan. Semangat kebersamaan itulah yang menggelora dalam Seminar Internasional Budaya Melayu dan Literasi Riau 2026, yang berlangsung megah di Pantai Tantri Trayana Mundam, Jalan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, pada Jumat hingga Sabtu, 11–12 September 2026.
 
Mengusung tema "Memajukan Budaya Melayu di Era Digital", kegiatan ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan dialog lintas bangsa yang menyatukan seni, budaya, dan literasi. Istimewanya, acara ini turut mengundang perwakilan dari empat negara serumpun: Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand. Kehadiran mereka menegaskan bahwa budaya Melayu adalah milik bersama, terikat oleh kesamaan tradisi, bahasa, dan ikatan persaudaraan satu rumpun yang tak terpisahkan.
 
 
 
 Dua Hari Penuh Kreativitas dan Pembelajaran
Rangkaian kegiatan dibuka secara resmi pada Jumat, 11 September 2026. Suasana sejak pagi terasa hangat dan penuh antusiasme, dimulai dengan penyambutan tamu undangan dan peserta dari berbagai negara, dilanjutkan proses registrasi, pembagian tanda peserta, hingga penentuan nomor tenda bagi peserta yang menginap. Malam haripun tidak sepi, karena kegiatan masih berlanjut dengan gladi resik dan lokakarya yang berjalan hingga larut malam, membangun kebersamaan antar peserta dari berbagai bangsa.
 
Memasuki Sabtu, 12 September 2026, peserta telah berkumpul kembali sejak pagi buta. Salah satu agenda paling dinantikan adalah Workshop Seni Gerak (Teater), yang diisi oleh tiga tokoh budaya ternama:
 
- Budi Sumarno, Pengamat Budaya, memaparkan materi mendalam tentang Kreativitas Seni Budaya, mengajak peserta berinovasi tanpa kehilangan jati diri.
- Bedjo Sulaktono, Praktisi Seni Budaya, berbagi pengetahuan praktis mengenai Pertunjukan Seni Budaya, dari konsep hingga pelaksanaan di lapangan.
-Umar Tadjuddin, Sastrawan sekaligus Praktisi Budaya, membimbing peserta dalam sesi Olah Vokal dan Karakteristik Pertunjukan, mengasah kemampuan berekspresi sesuai seni Melayu.
 
Peserta tidak hanya mendengarkan teori, tetapi langsung berlatih dan menyiapkan penampilan bersama. Di sela-sela kegiatan, suasana juga dimeriahkan dengan kehadiran komunitas Rolling Thunder Vespa serta penyambutan tamu-tamu kehormatan. Setelah jeda ISOMA waktu istirahat, ibadah, dan makan bersama  kegiatan ditutup dengan gladi bersih penampilan teatrikal yang dipandu langsung oleh ketiga instruktur bersama seluruh peserta.
 
 
 
 Satu Rumpun, Satu Budaya, Satu Masa Depan
 
Kegiatan ini menegaskan bahwa pelestarian budaya Melayu membutuhkan ruang kreatif yang selaras dengan zaman. Seni, sastra, teater, dan literasi digital dipadukan secara harmonis untuk menjaga budaya Melayu tetap hidup, berkembang, dan dikenal lebih luas. Pantai Tantri Trayana Mundam hari itu bukan hanya tempat wisata, melainkan ruang pertemuan budaya, kreativitas, dan literasi antar bangsa

 sebuah panggung terbuka di tepian laut yang menyimbolkan keterbukaan dan kebersamaan. Di asinilah Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand bersatu hati menjaga warisan bersama, membawa budaya Melayu semakin dekat ke hati generasi muda.

Editor: Eliwati